Tumpang Sari Melon Oranye dan Cabai Merah

image

Tumpang Sari Melon Oranye dan Cabai Merah

Prospek Budidaya

Melon Oranye meruapakan varietas melon yang popular dan sering dijumpai sebagai hidangan pencuci mulut di Indonesia, Melon Oranye kini dibudidayakan seacara luas dan serius oleh petani provinsi Bengkulu dan menjadi salah satu produk hortikultura unggulan yang pemasarannya hingga luar provinsi bahkan luar pulau Sumatera. Dengan banyaknya permintaan saat ini, budidaya Melon Oranye dari Provinsi Bengkulu cukup prospek untuk dikembangkan.

Kemudian, kebutuhan akan cabai merah terus meningkat sejalan dengan tingginya permintaan masyarakat. Di Indonesia, cabai merah digunakan secara luas sebagai bumbu masak dan bahan baku industri makanan dan obat-obatan. Menurut Balai Penelitian Tanaman Sayuran, estimasi kebutuhan cabai merah dalam negeri mencapai 720,000 – 840,000 ton/ha per tahun.

Potensi permintaan dua komoditi tersebut memberikan peluang bagi Arconesia berkolaborasi dengan petani Bengkulu untuk mengembangkan sistem budidaya tumpang sari melon oranye dan cabe merah. Dikarenakan dalam satu lahan dapat memanen dua komiditi sekaligus, proyeksi keuntungan tumpang sari jauh lebih besar dibandingkan sistem monokultur konvensional. Dalam proyek ini, Pak Pujianto akan menjadi mitra petani Arconesia. Beliau sudah berpengalaman 3 tahun dalam praktik tumpang sari melon oranye dan cabai merah. 

Risiko Budidaya

Secara umum, hama yang sering menyerang jenis melon-melonan dan cabai merah adalah lalat buah, kutu, dan tungau, sedangkan untuk penyakit yang sering menyerang diantaranya adalah embun tepung, Phytoptora Molonis, layu fusarium, virus dan busuk daun. Namun resiko tersebut dapat dimitigasi dengan berbagai hal, mulai dari pemilihan petani yang berpengalaman, pemilihan bibit dan pupuk unggul serta pemeliharaan sehari-hari yang dilakukan secara cermat dan teliti. Penggunaan sistem tumpang sari juga meminimalisir resiko total gagal panen akibat serangan hama, penyakit, dan fluktuasi harga. Dengan sistem tumpang sari, kegagalan yang dialami oleh satu komoditi berpeluang untuk dikompensasi dengan keuntungan dari komoditi lainnya